Sunday, August 30, 2009

Malaysia Truly Asia ?

Seorang adik ingin lebih hebat dari abangnya, itu merupakan suatu yang normal dan memang akan pernah dialami oleh setiap adik di setiap keluarga. Pada saatnya seorang adik akan sampai pada titik dimana dia ingin mengukur sampai dimana kehebatan dia bersamaan pula dia ingin mengukur sampai dimana kehebatan sang abang.

Saya ibaratkan Malaysia saat ini sedang dalam masa masa pengukuran diri seperti tulisan diatas.
Sebab bagi generasi Mahatir, Malaysia memandang atau menganggap Indonesia adalah abangnya.
Dan memang bagi pembaca yang mengetahui sejarah kedua negara diawal awal kemerdekaanya masing masing, Malaysia banyak berguru pada Indonesia. Berguru disini dalam arti harfiah, yaitu Malaysia mendatangkan guru guru dari Indonesia untuk mendidik dan mengajar di Malaysia disamping juga mengirim mahasiswanya untuk belajar di Indonesia dan waktu itu Indonesia memang sungguh sungguh ingin membantu mengentaskan Malaysia dari keterbelakangan pendidikan kalau tidak mau dikatakan kebodohan. Bahkan tidak hanya Malaysia saja tetapi juga Brunai D S. Saya tahu persis sebab seorang teman saya adalah anak seorang guru yang telah bertugas di Malaysia dan Brunai pada waktu itu.
Bahkan entah benar atau tidak, saya dengar Petronas pun adalah anak didik Pertamina.
Jadi wajarlah pada masa itu Malaysia menganggap Indonesia adalah saudara tua atau abangnya.

Dari sisi ini saya melihat strategi Mahatir untuk mengutamakan pendidikan dari pada ekonomi adalah suatu yang sangat tepat dan berbuah keberhasilan yang sangat hebat (thanks to Indonesia too, seharusnya) akan lain ceritanya sandainya strateginya adalah mengutamakan ekonomi, seperti strategi yang diterapkan sang abang.

Setelah mereka merasa lebih pintar (hanya perasaan mereka saja saya pikir) maka mereka secara psikologis ingin mengukur sampai dimana kemampuan dirinya terhadap sang abang.
Jadi bagi Malaysia saat inilah pengukuran diri itu sedang terjadi.
Seperti kita ketahui belakangan ini setelah merasa berhasil terhadap perebutan Sipadan dan Ligitan, Malaysia seolah olah telah merasa lebih dari sang abang. Sehingga Malaysia belakangan ini seolah olah melihat sebelah mata pada sang abang dibuktikan dengan perangainya yang tidak sepatutnya dilakukan. Dari kasus Ambalat, batik, rasa sayange, reog dan yang terakhir pendet.

Menurut pendapat saya perangai Malaysia kemungkinan besar adalah ulah dari generasi mudanya. Yang jelas bukan dari generasi Mahatir. Sebab saya tahu dan yakin generasi Mahatir sangat respek terhadap Indonesia.

Lebih hebohnya lagi Malaysia sekarang merasa merekalah yang paling Asia, yang sungguh sungguh Asia, bukan Indonesia, Jepang, Cina,India dan negara negara Asia yang lain. As they said that "Malaysia Truly Asia"

Sebagai sang abang sepatutnyalah kita memahami sang adik yang belum menemukan jati dirinya dan sedang mencarinya.

No comments:

Search This Blog